Beberapa
reaksi kimia mempunyai kemampuan untuk menghasilkan lebih dari satu produk. Jumlah relatif dari produk yang dihasilkan
lebih sering tergantung pada kondisi reaksi saat reaksi berlangsung. Perubahan
pada jumlah reaktan, waktu, temperatur, dan kondisi yang lain dapat
memperngaruhi distribusi pembentukan produk dari reaksi kimia tersebut.
Alasannya dapat
dimengerti dari dua konsep penting yaitu:
1. Stabilitas
relatif secara termodinamik dari produk yang dihasilkan.
2. Kecepatan
relatif secara kinetik pada saat produk terbentuk.
Kinetika
berkaitan kecepatan reaksi, termodinamika berkaitan dengan stabilitas intermediet
atau produk yang terjadi. Reaksi karbonil merupakan contoh reaksi yang menarik
untuk membahas control reaksi. Hal ini dikarenakan banyaknya produk yang bisa
saja terbentuk jika tidak dikontrol secara ketat. Ini berkaitan dengan adanya “diverse
reactivity” senyawa karbonil. Di satu sisi dia bisa berperilaku sebagai
elektrofil, namun juga bisa bersifat nukleofil pada kondisi tertentu. Satu
contoh misalnya pada reaksi Aldol, dengan 2 reaktan (A dan B) yang sama-sama mempunyai
hidrogen alfa, maka kemungkinan reaksi yang terjadi: A + A, A + B, B + A, dan B
+ B. Artinya, selain adanya kondensasi silang, juga terdapat selfcondensation. Belum
selesai masalah tersebut jika ternyata senyawa A ata B berupa molekul asimetri
sehingga adanya 2 kemungkinan H alfa yang menghasilkan intermediet yang berbeda
(regioselektivitas). Lalu bagaimana kontrol reaksi pada reaksi kondensasi
senyawa karbonil dalam hal kontrol kinetik dan termodinamik? Pada makalah ini
sebagai pendahuluan akan dipaparkan tentang definisi kemoselektivitas dan
regioselektivitas, merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan dalam
reaksi. Bagian kedua tentang pembahasan mengenai kontrol pada self-condensation
dan reaksi intramolekular. Bagian ketiga membahas kontrol pada kondensasi
silang, dilakukan dengan 2 pendekatan yaitu:
i)
menggunakan
reaktan yang salah satunya tidak bisa mengalami enolisasi (cannot enolise),
ii)
menggunakan
equivalen enol spesifik.
Kemoselektivitas
dan Regioselektivitas
Dalam reaksi
dikenal istilah kemoselektivitas dan regioselektivitas. Kedua selektivitas tersebut
dapat dikontrol dengan cara kinetika dan termodinamika. Namun sebelumnya, apakah
pengertian kemoseletivitas dan regioselektivitas?
Kemoselektivitas
adalah
memilih untuk dapat mereaksikan salah satu gugus fungsional dari dua gugus yang
berada pada satu molekul. Contoh pada senyawa karbonil, yang bisa berperan
sebagai nukleofil (sebagai enolat) dan juga elektrofil.
Regioselektivitas
adalah
memilih untuk dapat mereaksikan salah satu dari gugus
fungsional yang sama pada satu
molekul. Contoh keton asimetris, yang memiliki dua
atom C alfa yang
bisa berperan sebagai nukleofil.
Pengertian
kinetik dan termodinamik enolat
Senyawa karbonil yang memiliki H
alfa jika diperlakukan pada kondisi asam, akan
membentuk enol, sedangkan
pada kondisi basa membentuk ion enolat. Kondisi asam termasuk kontrol
termodinamik karena mengacu pada kestabilan intermediet (enol).
Sedangkan kondisi basa, termasuk
kontrol kinetik karena mengacu pada terbentuknya
ion enolat yang berjalan cepat.
Perlakuan metil keton dengan LDA
biasanya menghasilkan hanya lithium enolat pada
sisi metil. Enolat ini terbentuk
cepat, dan berikutnya dikenal dengan nama enolat
kinetik. Alasan terbentuk cepat:
a. proton pada gugus metil adalah
lebih asam
b. terdapat tiga H alfa pada sisi
metil dibandingkan 2 H alfa pada sisi lainnya
c. terdapat hambatan sterik pada
penyerangan LDA pada sisi lain dari gugus
karbonil.
Termodinamik untuk
Reaksi
Untuk terjadinya reaksi secara spontan, energi bebas produk harus
lebih rendah daripada energi bebas reaktan, yakni ∆G harus negatif.
Reaksi dapat saja berlangsung melalui jalan lain, tapi tentu saja hanya jika
energi bebas ditambahkan. Energi bebas terbuat dari dua komponen yaitu entalpi H
dan entropi S. Kuantitas tersebut dihubungkan dengan persamaan:
∆G = ∆H – T∆S
Perubahan entalpi dalam suatu reaksi terutama adalah perbedaan
energi ikat (meliputi energi resonansi, tegangan, dan solvasi) antara reaktan
dengan produk. Perubahan entalpi dapat dihitung dengan menjumlahkan semua
energi ikatan yang putus, kemudian dikurangi dengan jumlah energi semua ikatan
yang terbentuk, dan ditambahkan dengan perubahan energi resonansi, tegangan,
atau energi solvasi.
Enolat kinetik vs. termodinamik
Jika keton taksimetris diberikan basa, ia mempunyai potensi
membentuk dua enolat yang bersifat regioisomer (dengan menghiraukan geometri
enolat).
Enolat yang ter-trisubstitusi
dianggap sebagai enolat kinetik, sedangkan enolat yang ter-tetrasubstitusi
dianggap sebagai enolat termodinamik. Hidrogen alfa yang terdeprotonasi
membentuk enolat kinetik kurang terhalang, sehingga terdeprotonasi lebih cepat.
Secara umum, olefin yang ter-tetrasubstitusi lebih stabil daripada olefin yang
ter-trisubtitusi oleh karena stabilisasi hiperkonjugasi. Rasio dari regioisomer
enolat ini sangat dipengaruhi oleh pilihan basa yang digunakan. Untuk contoh di
atas, kontrol kinetik dapat dilakukan dengan menggunakan LDA pada -78 °C,
menghasilkan selektivitas 99:1 untuk enolat kinetik:termodinamik, sedangkan
kontrol termodinamik dapat dilakukan dengan menggunakan trifenilmetillitium
pada suhu kamar, menghasilkan selektivitas 10:90.
Secara umum, enolat kinetik lebih
difavoritkan pada kondisi temperatur yang rendah, ikatan logam-oksigen yang
relatif ion, dan deprotonasi cepat menggunakan basa yang kuat dan terhalang,
yang sedikit berlebihan, sedangkan enolat termodinamik lebih difavoritkan pada
kondisi temperatur yang lebih tinggi, ikatan logam-oksigen yang relatif
kovalen, dan waktu kesetimbangan yang lebih lama untuk deprotonasi dengan
menggunakan basa kuat yang kadarnya sedikit berlebih dari jumlah
sub-stoikiometri reaksi. Penggunaan jumlah sub-stoikiometri basa mengijinkan
sebagian kecil senyawa karbonil yang tidak terenolisasi menyeimbangkan enolat
menjadi regioisomer termodinamik dengan berperan sebagai ulang alik proton (proton
shuffle).
Pertanyaan :
Mengapa Enolat yang ter-trisubstitusi dianggap sebagai enolat
kinetik, sedangkan enolat yang ter-tetrasubstitusi dianggap sebagai enolat
termodinamik?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar